Ning Robwah dan Isu Ketertindasan yang Tak Pernah Usai

Ning Robwah dan Isu Ketertindasan yang Tak Pernah Usai

Oleh: Muhammad Tamyis Al-Farisi

Perempuan itu melenggang tegas di kerumunan orang-orang yang saling menatap. Antara prihatin, miris atau menghakimi tindakannya memilih bersikap “menantang” di hari paling sakral. Seorang “Ning” atau putri tokoh agama yang kental akan pemahaman mendalam terhadap ketentuan syari’at tampil di luar ekspektasi semua orang. Memakai gaun layaknya tuan putri, lengkap dengan mahkota berkilau bertengger di kepala. Namun yang menjadi perbincangan publik adalah untaian rambut terurai berwarna merah menyala. Sebuah batas norma, terlebih agama yang berani ditantang oleh kalangannya sendiri.

Namun reaksi publik yang mereduksi peristiwa tersebut hanya pada ranah perdebatan fikih klasik di tatanan “halal-haram” atau etika moral semata adalah bentuk kenaifan intelektual. Kejadian ini seharusnya dipahami lebih mendalam dengan kaca mata sosial yang terbuka. Karena ia adalah ketegangan abadi antara hasrat individu untuk melindungi hak dan kebebasannya dengan struktur sosial yang menuntut kepatuhan paling mutlak.

Tubuh Sebagai Benteng Terakhir

Berdasarkan narasi publik yang beredar, perjodohan tersebut sudah dilakukan sejak kecil. Apabila benar demikian, maka Ning Robwah sudah sejak lama tidak memiliki kendali mutlak atas masa depannya sendiri. Alasan inilah yang paling masuk akal menjelaskan sikap yang dipilih saat acara pernikahannya. Apa yang kita saksikan dapat dijelaskan dengan teori Psychological Reactance Theory. Bahwa Ketika seorang manusia merasa kebebasan fundamentalnya untuk memilih – dalam kasus ini berarti memilih pasangan – terancam, jiwa akan melepaskan gejolak motivasional yang hebat untuk memulihkan dan mengembalikan rasa kendali tersebut.

Ning Robwah sadar bahwa ia tidak dapat membatalkan “acara” pernikahannya. Maka ia membatalkan “substansi” pernikahannya dengan pemberontakan visual yang paling dalam. Satu-satunya hal yang masih mutlak menjadi kendali dan kuasa Ning Robwah adalah tubuhnya. Maka melepas hijab dan mengecat rambut tidak lagi menjadi sekedar gaya, melainkan bentuk proklamasi otonomi. Ia dengan tegas seolah berkata bahwa meskipun nasibnya diatur di bawah kuasa orang lain, tubuh tetaplah miliknya.

Secara psikodinamika, ini adalah bentuk displacement atau pengalihan. Ning Robwah menjadikan kemarahan dan ketidakberdayaannya terhadap otoritas patriarki yang tak tersentuh menjadi agresi visual. Rambut merah itu bukan hanya sinyal “bahaya”. Melainkan jeritan sunyi paling keras yang meruntuhkan batas norma agama dan tembok-tembok kepatuhan.

Politik Tubuh di Tengah Hegemoni Patriarki

Dalam perspektif feminisme, tubuh Perempuan tidak pernah benar-benar netral. Ia adalah tempat di mana situs kekuasaan bekerja. Bahkan dalam masyarakat patriarki religius – seperti kasus Ning Robwah – yang kaku, tubuh perempuan seringkali dianggap sebagai milik komunitas. Sehingga kehormatan keluarga, Marwah pesantren hingga cermin masyarakat duduk rapi di atas kepatuhan atas tubuh Perempuan tersebut.

Keberanian Ning Robwah melucuti atribut keagamaannya di depan publik adalah sikap reclaiming atau pengambilalihan Kembali otoritas tubuhnya (bodily autonomy). Ia menolak didisiplinkan oleh tatapan masyarakat yang menuntutnya menjadi simbol kesucian pasif dan objek simbolis etalase kesalehan keluarga, sementara batinnya sendiri terabaikan.

Fenomena ini menjadi semacam bumerang yang memutar kembali narasi lama tentang isu perjodohan di lingkaran diskusi mengenai Perempuan. Ini merupakan otokritik tajam terhadap budaya kita yang sering mencampuradukkan bakti kepada orang tua dengan penundukan total yang membunuh agensi Perempuan. Narasi patriarki bertopeng agama kerap kali dipakai untuk melanggengkan domestikasi. Seolah menjadi anak yang berbakti kepada orang tua harus dibayar dengan kompensasi kematian jiwa dan kebebasan memilih. Maka Ning Robwah, melalui aksi diamnya yang “bising”, menggugat kemapanan tersebut. Ia menunjukkan bahwa moralitas agama tidak seharusnya menjadi alat untuk mengikat erat hak asasi manusia.

Harga Mahal Sebuah Kebebasan

Pertemuan antara tekanan psikologis internal dan penindasan komunal pada struktur eksternal inilah yang memuncak dan menciptakan ledakan hebat. Ning Robwah berada dalam posisi krisis eksistensial. Di mana kebutuhan otonomi paling dasarnya tidak terpenuhi. Siklus ini disebut “tak pernah usai” karena penindasan kepada Perempuan terus saja menjadi bola liar pilihan sikap Masyarakat. Perempuan dituntut menjadi malaikat tanpa cela namun Kesehatan mentalnya diabaikan. Ketika Perempuan tersebut meledak, Masyarakat malah menghakiminya kembali sebagai pendosa yang membuat malu agama dan keluarga, tanpa mau mengevaluasi sistem yang menciptakan tekanan tersebut.

Tindakan Ning Robwah adalah sebuah paradoks yang menyedihkan. Ia harus rela menghancurkan reputasi dirinya sendiri hanya untuk membuat suaranya didengar jauh lebih keras lagi. Sebuah harga mahal dibayar untuk kebebasan hak asasi manusia yang seharusnya menjadi pondasi miliknya sendiri.

Kasus ini seharusnya menjadi cermin retak yang membuat kita semua kembali berkaca pada sebuah masalah klasik yang hampir pecah. Bahwa di balik jubah kehormatan status sosial, nasab dan agama, ada manusia rapuh bernama “perempuan” yang membutuhkan rekognisi atas eksistensi dan pilihannya. Mungkin ini adalah cara Ning Robwah mencari makna di tengah situasi rumit yang menekan. Dengan berani menjadi diri sendiri saat seluruh dunia mencemoohnya. Peristiwa ini menegaskan bahwa isu ketertindasan perempuan tidak akan usai selama kita masih lebih peduli pada selembar kain penutup kepala daripada kewarasan jiwa manusia yang ada di baliknya.

Penulis adalah mahasiswa aktif semester VII Prodi Tasawuf dan Psikoterapi Universitas Annuqayah. Saat ini merupakan santri di Pondok Pesantren Annuqayah Latee.

Comments

No comments yet. Why don’t you start the discussion?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *